Headlines News :
Home » » Gondang

Gondang

Written By Keuskupan Sibolga on Kamis, 10 Mei 2012 | 09.55

Oleh. Pst. Paulus Posma Manalu, Pr

Saya teringat cara berkomunikasi para pemain musik di Parlabian sebelum media komunikasi HP belum dikenal. Jarak rumah para pemain yang berjauhan membuat mereka harus berkomunikasi dengan cara mereka sendiri. Jika ada panggilan bermain gondang, para pemain gondang (gondang adalah musik tradisional batak yang sering dimainkan dalam hajatan orang Batak termasuk kematian) berkomunikasi dengan memukul gondang dengan irama tersendiri.

Grup pemain musik tinggal berjauhan satu sama lain. Yang satu tinggal di Bakkelok sebuah dusun di Parlabian sementara yang satu tinggal di Tindoan, sebuah nama yang menunjuk pada ladang juga di Parlabian. Jarak antara Tindoan dan Bakkelok kurang lebih 2 jam jalan kaki. Di Tindoan itulah tinggal parsarune atau peniup serunia sementara di Bakkelok tinggal pemain gondang (pemain gendang). Mereka dua membentuk satu kelompok musik gondang.

Jika ada permintaan bermain musik, maka permintaan dialamatkan ke orang yang tinggal di Bakkelok. Permintaan ini akan diberitahukan ke parsarune di Tindoan dengan cara memukul gondang dengan bunyi yang disepakati. Bunyi gondang itu akan sampai ke Tindoan dan setelah mendengar bunyi itu tak lama kemudian parsarune akan turun gunung.

Gaya berkomunikasi ini membutuhkan kejelian tersendiri. Selain pengenalan bunyi juga dibutuhkan keheningan. Hal ini perlu karena: Pertama, setiap hari ada saja orang yang latihan gondang di Bakkelok karena itu si Parsarune di Tindoan harus jeli mengenali suara yang menyampaikan pesan permintaan bermain Gondang. Kedua, bunyi lain yang lebih keras di sekitar Tindoan bisa saja menutupi suara yang datang dari Bakkelok. Oleh sebab itu suara yang tidak gaduh menjadi syarat di penerima pesan agar pesan yang sesungguhnya sampai.

Di tengah hiruk pikuknya dunia kita dewasa ini dibutuhkan keheningan agar kita mampu mengenali diri. Keheningan itu menjadi sangat penting untuk membedakan dan memilah mana yang pantas dikomsumsi dan mana yang menjadi sampah.

Kita akan terus dijejali oleh berita-berita dan informasi. Iklan-iklan tiap saat mempengaruhi pikiran kita. Iklan-iklan tak selamanya menawarkan apa yang baik saja, tetapi juga menawarkan segala tawaran dunia yang bisa menyesatkan yang boleh jadi membuat kita tak merasa puas dengan apa yang kita miliki. Godaan iklan terkadang membuat kita merasa ketinggalan zaman, kalau tidak memiliki HP model terbaru.

Media boleh jadi membuat kita tak mampu lagi membedakan antara fungsi dan gaya hidup. Harga diri kita seolah terasa naik hanya karena memiliki Black Berry. Padahal kita tak mampu memnggunakan semua fitur yang ditawarkan oleh Black Berry atau boleh jadi memang kita tak membutuhkan layanan lebih yang ditawarkan oleh BB itu.

Komunikasi terletak pada efektivitas. Inti yang hendak ditawarkan adalah seberapa efektik kita menggunakan media komunikasi ini. Kelompok pargondang di Parlabian, bisa berkomunikasi dengan baik dengan alat yang sederhana ketika mereka saling mengerti dan mendengar satu sama lain. Mari masuk dalam keheningan sambil mendengar kata-kata yang efektik untuk evangelisasi.
Share this article :

0 komentar:

Tulis Komentar Anda

Gunakan Account Gmail untuk menuliskan komentar anda!

 
Dikelola Oleh : Biro KOMSOS
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2009. Keuskupan Sibolga - All Rights Reserved
Keuskupan Sibolga | Membangun Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan.